Sinode, Sinode, Sinode ...
Sinode Godang HKBP akan segera digelar. Kalau Tuhan menghendaki tahun 2008 ini HKBP kembali mengadakan temu raya organisasi terbesar dan terpenting di HKBP. Sinode Godang 2008 tergolong istimewa dan dinantikan, sebab sinodisten (peserta sinode godang) kali ini memiliki agenda penting yakni pemilihan pucuk pimpinan HKBP yang terdiri dari 1 orang ephorus, 3 orang kepala bidang dan 1 orang sekretaris umum. Mereka akan bergelut dan berpeluh disertai doa (harapan kita!) untuk memutuskan siapa gerangan yang diyakini mampu menjadi gembala bagi 3,5 juta umat yang menyandarkan pengharapan dan keselamatannya di bawah pelayanan HKBP?
Selain itu, SG kali ini dibayang-bayangi pikiran yang campur-aduk, terutama mengenai performa pucuk pimpinan periode 2004-2008. Dalam beberapa kesempatan muncul dugaan bahwa 'lima pucuk' ini dinilai tidak kompak. Pula, yang terpenting, pucuk pimpinan periode 2004-2008 hampir tidak menorehkan catatan prestasi yang benar-benar membuat HKBP bisa tampil lebih baik. Kita tidak dapat melihat dengan gamblang bahwa HKBP telah mampu menunjukkan bakti dan ketaatan kepada Dia Sang Kepala dengan pelayanan yang lebih baik.
Masalah, Masalah, Masalah ...
Ambil contoh, kita mencatat bahwa masalah di HKBP Bandung masih belum selesai dengan baik. Alih-alih menyelesaikan masalah, keputusan Ephorus HKBP Pdt. Dr. Bonar Napitupulu malah membuat situasi semakin runyam. Sebuah keputusan yang benar-benar tidak didasarkan kepada akar masalah dan menujukkan pula keengganan (atau mungkin ketidakmampuan?) pimpinan HKBP mengenal dan memahami jemaatnya.
Kita mencatat bagaimana penolakan jemaat Distrik XIV Tebingtinggi Deli terhadap pelantikan Pdt Viktor Sihotang STh menjadi praeses menggantikan almarhum Pdt Badia H. Panjaitan. Secara gamblang warga jemaat melakukan protes terbuka atas pengangkatan Pdt Sihotang. Jemaat telah membuat surat protes pengangkatan tersebut akan tetapi tidak ditanggapi. Protes jemaat atas pengangkatan Praeses Pdt Viktor Sihotang STh nampak jelas saat ibadah pelantikan.
Penolakan ini menjadi indikasi bahwa pimpinan HKBP enggan (atau mungkin tidak mampu?) memahami kebutuhan jemaatnya.
Kita juga mencatat bahwa pucuk pimpinan HKBP tidak peka terhadap masalah di HKBP Dolok Sanggul dengan membiarkan jemaat HKBP Dolok Sanggul Kota mendirikan gereja tanpa pemberitahuan di atas lahan yang berada di bawah pengelolaan HKBP Dolok Sanggul. Hal ini menunjukkan bahwa HKBP tidak mampu memahami realitas jemaatnya.
Kita juga mencatat, kendati tidak perlu dibeberkan, belasan penolakan jemaat terhadap pendeta dan penolakan pendeta terhadap SK mutasi. Hal ini menunjukkan bahwa pimpinan HKBP telah kehilangan respek dari kalangan pendeta dan jemaat.
Pada aras hubungan gereja dan negara, kita juga melihat pimpinan HKBP tidak berdaya saat beberapa gedung gereja HKBP dikepung, dibakar dan diratakan dengan tanah di berbagai tempat. Pimpinan HKBP gagal membuat lobi politik, baik di aras eksekutif maupun legislatif lewat beberapa orang Batak maupun orang Kristen yang menjabat di sana, agar pemerintah bertindak tegas melarang pemberangusan tempat ibadah.
Yang bisa terlihat dengan jelas adalah kebiasaan baru Ephorus HKBP mengadakan pertemuan dengan pejabat daerah dengan embel-embel "Open House" di awal tahun. Kita tidak tahu apa dibicarakan Ephorus dengan para bupati sesudah "open house" itu. Namun kita patut bertanya, telah dengan sengajakah pimpinan HKBP menutup pintu bagi masyarakat sehingga "open house" harus menjadi agenda rutin? Bukankah "open house" menjadi sinyal bahwa HKBP sebenarnya tidak pernah menyendengkan telinga untuk masalah-masalah masyarakat yang dilayaninya? Jika itu benar, gembala macam apakah yang membiarkan domba-dombanya tanpa daya di tengah kumpulan serigala zaman yang semakin ganas mengumbar krisis di segala bidang?
Apa pun maksud "open house" itu, kita tidak mau HKBP diajak ikut merestui, menikmati dan bungkam terhadap korupsi para pejabat daerah. Kita juga tidak mau, "open house" itu menjadi semacam sinyal HKBP memiliki program "fund raising" kepada pejabat-pejabat pemerintahan.
Selain itu, kita patut bertanya apa urgensi perayaan "HKBP Manjujung Baringinna" di Senayan? Apakah "show of force" kepada pemerintah atau umat beragama lain atau semacam acara pelunasan ketidakhadiran SBY di Medan saat perayaan jubileum CCA (Dewan Gereja Asia) tahun lalu atau HKBP ingin agar seorang presiden bisa hadir dalam seremonialnya? Ugh, jangan-jangan HKBP sedang dibawa ke pusaran balik arus sejarah, kembali ke zaman orba dulu!
Pada aras hubungan ekumene dengan lembaga internasional kita tahu bahwa HKBP sudah semakin sulit mengadakan kerja sama. Penyebabnya satu, HKBP sukar dipercaya jika sudah menyoal duit. Misalnya beberapa kemitraan antara distrik HKBP dengan jemaat di Jerman hasil kerja keras periode SAE Nababan (1987-1992), kini tingga cerita. Hubungan distrik-distrik Samosir, Humbang, Silindung, Toba dengan mitra-mitra di Jerman mengalami kemunduran. Mengapa? Orang Jerman benar-benar keki, lantaran proyek yang dijanjikan proposal tidak di temukan di dunia nyata.
Tetapi yang terpenting adalah, spiritualitas jemaat bisa jadi tidak mengalami pertumbuhan positif akibat kurangnya perhatian para gembala gereja. Alih-alih tumbuh, spiritualitas itu sudah semakiin kerdil dan layu. Memang kita tidak tahu persis indeks kemunduran itu, tetapi kita boleh mengasumsikan demikian.
Baiklah. Intinya pucuk pimpinan periode 2004-2008 memang tidak menorehkan prestasi apa-apa. Terlalu sarkastis? Tidak juga. Anda sendiri boleh menemukan buktinya di Almanak HKBP 2008 pada judul "Angka Taon Siingoton" (Hlm. 411- 415 edisi hard cover). Jangan tercengang jika tidak ada catatan apapun sepanjang tahun 2005-2007.
Ironisnya, nats meneguhkan bagian ini adalah Mazmur 126:3 (Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita/Godang ma tongon na binahen ni Jahowa tu hita). Lha, tidak adalah perkara besar yang dilakukan Tuhan kepada kita sepanjang tahun 2005-2007? Kepada HKBP secara organisasi: NIHIL, SAUDARAKU!
Anda mungkin berkata, "itu adalah usaha merendahkan diri." Tidak juga. Khususnya jika kita memahami gaya personal pucuk pimpinan HKBP sekarang yang tidak ragu-ragu memasang potret berwarna sehalaman penuh (sama ukurannya gambar Yesus dan Anda, domba di gendongan itu!) di halaman-halaman depan Almanak HKBP. Merendahkan diri? Yang benar saja!
Lantas?
Jika HKBP dianalogikan dengan manusia, maka HKBP kini adalah sosok tua renta bertubuh tambun, dihinggapi berbagai penyakit kronis, terbaring lesu di dipan reot, mata rabun, telinga sudah nyaris tidak bisa mendengar, bicara terbata-bata tidak bisa dimengerti dan hembusan nafas tinggal satu-satu .
Jadi bagaimana? Akankah kita terus mempertahankan citra HKBP yang semakin hari semakin mengkhawatirkan itu? Bisakah mulai kini, siapa saja yang beriman dan mencintai HKBP bicara agar Gereja itu segera bangun, berdiri dan berinisiatif menyegarkan tubuh lewat kepemimpinan yang membawa kesegaran pula?
Kepemimpinan yang membawa kesegaran? Apakah itu berarti bahwa kita harus menyerukan biar pemimpin yang sekarang lantang berkata kepada diri sendiri: TIDAK LAGI UNTUK PERIODE BERIKUT?
Jika demikian bagaimanakah kita merumuskan profil pucuk pimpinan itu sesuai dengan konteks kebutuhan warga HKBP sendiri?
Polling di sebelah mencoba menelusuri sikap dan pandangan jemaat mengenai kepemimpinan HKBP sekarang ini. Dari sana, mudah-mudahan, kita akan temukan profil dasar seperti apakah kepemimpinan HKBP yang sesuai dengan kebutuhan jemaat itu sendiri. Jika orangnya memang ada, profil semacam itulah kiranya yang menjadi pemimpin HKBP yang akan datang.
Lalu, mengapa anda tidak mengisi polling di sebelah saja agar hasilnya bisa segera kita tahu lantas kita publikasikan dan memberikannya kepada para sinodisten?
PERHATIAN: AGAR HASIL JAJAK PENDAPAT INI VALID, MOHON KIRANYA ANDA MEMBERI SUARA HANYA SATU KALI SAJA, JANGAN DUA KALI, APALAGI TIGA. TIDAK ADA GUNANYA. TOH, TUJUAN KITA HANYA UNTUK MEMETAKAN SIKAP DAN PERSEPSI ANDA SEMATA-MATA, BUKAN UNTUK KUDETA!
09 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
3 komentar:
Jadilah domba yang cerdas. Ketika tujuan akhir adalah percaya hanya Yesuslah Tuhan dan Juru Selamat. Biarkan saja kelompok gembala dengan segala kegagalan, kekurangsigapannya dan segala kelemahan lainnya.
Sebagai domba, nikmatilah rumput "rohani" yang akan membuat sehat jiwa, rohani kita.
Karena bisa jadi sekuat apapun sang domba "mengembek" dia hanya domba.
Pada akhirnya tiap domba akan dinilai kedombaannya, tiap gembala akan dinilai kegembalaannya.
Bukan masalah siapa, bagaimana, berapa lama, berapa hebat sang gembala tetapi bagaimana ditengah suasana apapun sang domba menemukan hakekat kedombaannya sesuai tuntutan sang pemilik, Dia sang pencipta.
Pertama-tama terimakasih atas upaya dan kepedulian admin sehingga blog ini lahir di dunia maya ini.
Pertanyaan Poling sebaiknya dimulai dari: "Apakah anda setiap hari Minggu mengikuti kebaktian di Gereja HKBP?"
lalu dilanjutkan dengan: "Apakah anda seorang warga HKBP yang aktif dalam kurun waktu empat tahun terakhir?". Baru pertanyaan-pertanyaan selanjutnya akan lebih relevan.
Kedua, pernyataan "vox populi vox dei" sangat menarik bila ditinjau dalam konteks struktur sosio-religius. Kalau boleh saya memperoleh tanggapan anda tentang hal ini dihubungkan dengan 1 Samuel pasal 8.
Ketiga, ada baiknya jika dalam artikel dimuat juga alternatif model organisasi atau paling tidak sistem pemilihan yang lebih memungkinkan nilai-nilai kristiani diterapkan. Menurut saya, sistem pemilihan demokrasi akan selalu didahului proses kampanye (yang sangat sulit berjalan dengan jujur tanpa menjelek-jelekkan calon lain). Sementara sistem pemilihan dengan doa dan undi selalu ditolak dengan bermacam dalih, padahal justru sistem ini juga diterapkan dalam kisah kesaksian alkitab.
Keempat, sebaiknya perlu ditelaah, kalau materi sering dianggap sebagai akar ambisi pelayan untuk memperoleh jabatan struktural, maka SG 2008 sebaiknya membicarakan hal ini secara transparan. Contoh: fasilitas apakah yang pantas untuk seorang pendeta resort, seorang praeses, seorang pimpinan HKBP? Kalau fasilitas itu diberi, pelayanan seperti apakah yang bisa diharapkan dari mereka sesuai dengan fasilitas itu? Sejauh manakah tingkat efisiensi fasilitas yang diterima selama kurun waktu pasca rekonsiliasi ini?
Akhir kata, semoga sikap kritis dan kepedulian kita senantiasa demi kelangsungan gereja Tuhan, bukan sekedar untuk perobahan sesaat apalagi revolusi yang tak terkendali.
memang benar HKBP kita sudah berumur,namun bukan jadi alasan untuk menjadi usang, tua dan renta. HKBP merupakan gereja yang tumbuh dalam Ktistus sejak berdirinya. Hidup dalam KRistus adalah hidup yang selalu baru tiap paginya, artinya tidak ada kata tua, usang dan renta. harap saya pada sinode tahun ini, calon kandidat yang terpilih nantinya mampu melihat dan mengembangkan SDM warga Jemaatnya (kami-kami ini). pembaruan dalam gereja dapat diwujudnyatakan dalam berbagai hal, kami sebagai generasi penerus kebudayaan dan gereja kami perlu dorongan untuk tetap mencintai HKBP dan budaya BATAK selain dorongan dari orangtua kami sendiri. adakan program dan kegiatan yang baru, yang mampu mengembangkan diri kami sendiri, sepertinya karya tulis ilmiah bagus untuk mendorong kami melihat kebudayaan kami sendiri (baik berupa lomba atau apapun). komentar tidaklah hanya komentar. berbicara memang enak rapi proses melakukannya akan ada banyak kendala. oleh karena itu, doa dan partisipasi saya dalam HKBP ada dibelakang OMPU. TUHAN MEMBERKATI. HORAS...
Posting Komentar